Sunday, 9 December 2018

Abses Anus

Abses anus ialah suatu penyakit yang memunculkan nyeri pada wilayah anus dampak infeksi pada kelenjar-kelenjar kecil di dinding anus. Katup anus internal (sphincter ani internus) bermanfaat untuk menangkal infeksi dari rongga usus ke jaringan di dekat anus (perianal). Namun, andai infeksi dari usus sukses menembus katup ini, penyebaran infeksi dapat menjangkau jaringan perianal dan mengakibatkan abses anus.

Abses Anus - Ortusehat


Abses yang terjadi sering hadir dalam format lepuh mengandung nanah dan pembengkakan di wilayah anus. Jika disentuh, pembengkakan ini bisa terasa hangat dan berwarna kemerahan. Namun pada abses yang letaknya dalam, terkadang tidak bisa terlihat maupun teraba. Berdasarkan tempat abses yang terjadi dampak penyebaran infeksi, abses anus dapat dipisahkan sebagai berikut:

  • Abses perianal (adalahjenis abses anus yang sangat umum terjadi).
  • Abses ischiorectal yakni pada rongga postanal.
  • Abses pada rongga supralevator.
  • Abses pada rongga intersphincter.

Gejala Abses Anus

Gejala abses anus yang hadir pada penderita berbeda-beda bergantung tempat munculnya abses. Jika abses terjadi di wilayah perianal, fenomena yang hadir adalah:

  • Nyeri pada anus secara terus-menerus, terasa menusuk, dan meningkat parah pada ketika duduk.
  • Iritasi kulit di dekat anus yang disertai dengan kemerahan, pembengkakan, dan pengerasan kulit.
  • Keluarnya nanah dari anus.
  • Sembelit dan nyeri yang disebabkan oleh pergerakkan usus.

Pada abses yang terjadi di wilayah anus yang lebih dalam, laksana abses supralevator, fenomena yang dapat hadir antara lain:

  • Demam.
  • Kedinginan.
  • Tidak enak badan.

Pada sejumlah kasus abses anus yang letaknya dalam, terkadang malah melulu muncul fenomena demam saja sehingga lumayan menyulitkan diagnosis dan memerlukan pertolongan MRI atau CT scan.

Penyebab Abses Anus

Penyebab timbulnya abses anus pada seseorang bisa berbeda-beda. Namun, situasi ini lazimnya dapat diakibatkan oleh hal-hal berikut:

  • Infeksi pada fistula anus (suatu celah kecil yang terbentuk pada kulit di drainase anus).
  • Infeksi menular seksual.
  • Penyumbatan pada kelenjar anus.

Seseorang bisa lebih gampang terkena abses anus bila:

  • Menderita radang divertikulum.
  • Mengonsumsi obat-obatan antiradang, laksana prednisone.
  • Menjadi penerima seks anal.
  • Menderita diabetes.
  • Menderita peradangan pada unsur pelvis.
  • Menderita peradangan pada drainase pencernaan, laksana pada penyakit Crohn atau kolitis ulseratif.

Diagnosis Abses Anus

Abses anal, khususnya abses perianal yang tidak menimbulkan fenomena sistemis, bisa didiagnosis melewati penelusuran fenomena dan pemeriksaan situasi anus. Untuk menolong diagnosis, dokter pun akan mengerjakan pemeriksaan terhadap situasi bersangkutan, misalnya:

  • Penyakit infeksi menular seksual.
  • Penyakit peradangan drainase pencernaan.
  • Penyakit divertikulum.
  • Kanker rektum.

Pada pasien yang dicurigai menderita abses anus di unsur dalam, laksana pada abses superelevator, diagnosis dapat dilaksanakan dengan cara pemindaian. Antara lain ialah USG, MRI dan CT scan. Ada juga sejumlah kasus abses anus yang termasuk kompleks dan menimbulkan gejala-gejala sistemik. Untuk menolong diagnosis abses anus yang kompleks, dapat dilaksanakan pemeriksaan dengan endoskopi. Tujuannya ialah untuk menyaksikan abses dan fistula, serta menilai letak, penyebaran dan ukurannya.

Komplikasi Abses Anus

Jika tidak ditangani dengan baik, abses anus dapat memunculkan komplikasi sebagai berikut:

  • Fistula.
  • Bakteremia (bakteri masuk ke dalam sistem peredaran darah) dan sepsis, serta penyebaran infeksi dari anus ke organ tubuh lain.
  • Inkontinensia fekal.
  • Abses menjadi ganas.

Pengobatan Abses Anus

Adanya abses pada anus menandakan infeksi yang terjadi lumayan parah dan membutuhkan pengobatan melewati pembedahan. Akan tetapi, sekitar tahap persiapan pembedahan dilakukan, pasien abses anus dapat diserahkan antibiotik. Pembedahan guna mengobati abses anus perlu dilaksanakan sesegera barangkali dikarenakan penundaan pembedahan bisa meyebabkan kehancuran jaringan kronis.

Metode pembedahan yang dapat dilaksanakan untuk mengobati abses anus antara beda sebagai berikut:


  • Pembedahan abses perianal. Abses perlu dilemparkan melalui pembedahan sebelum pecah dan memunculkan komplikasi. Berbeda dengan pembedahan lainnya, pembedahan abses anus tidak membutuhkan pengosongan drainase pencernaan. Sebelum pembedahan dilakukan, pasien akan diserahkan anestesi lokal terlebih dahulu. Pembedahan abses dilaksanakan dengan teknik membuat sayatan (insisi) pada wilayah abses, dibuntuti dengan pengeluaran dan pengeringan nanah dari abses. Insisi yang dibuat seringkali cukup dengan insisi kecil untuk meminimalisir risiko terbentuknya fistula. Nanah yang dikeluarkan dari abses kemudian diteliti untuk memahami jenis bakteri yang mengakibatkan infeksi. Setelah pembedahan dilakukan, insisi diblokir dengan kain kasa antiseptik yang mengandung iodin. Setelah 24 jam, pasien diwajibkan untuk merendam unsur bokongnya di air yang berisi obat-obatan 3 kali sehari, dan satu kali setiap sesudah buang air besar.
  • Pembedahan abses supralevator, ischiorectal, dan intersphincter. Prinsip ketiga pembedahan ini nyaris sama dengan pembedahan pada permasalahan abses perianal. Hanya saja, pembedahan abses supralevator, ischiorectal dan intersphincter membutuhkan proses yang lebih rumit sebab letaknya dalam, dan mesti dilaksanakan di ruang operasi. Untuk menerbitkan nanah dari abses, diciptakan insisi di wilayah yang merasakan pembengkakan sangat besar. Setelah diciptakan insisi, nanah dikeluarkan melewati pipa kecil dan ditolong dengan penekanan di unsur abses supaya nanah dapat terbit dengan maksimal. Bagi pembedahan ini, pasien dapat diserahkan anestesi lokal atau anestesi umum andai dirasa perlu.
  • Pembedahan dan penyembuhan fistula. Fistula adalahsalah satu komplikasi yang bisa muncul dampak abses. Operasi fistula dapat dilaksanakan bersamaan dengan operasi abses. Namun, kadang fistula baru muncul sejumlah minggu hingga sejumlah bulan setelahnya, sampai-sampai pembedahan guna fistula dilaksanakan terpisah dengan pembedahan abses.

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi sesudah pembedahan abses dan fistula antara beda adalah:

  • Infeksi.
  • Fisura anal.
  • Kemunculan pulang abses pasca pembedahan.
  • Bekas luka pada wilayah insisi.

Untuk menolong pengobatan abses pasca pembedahan dan meminimalisir risiko komplikasi pasca pembedahan, pasien bisa diberikan sejumlah jenis obat-obatan, seperti:


  • Infeksi. Pasien dapat diserahkan antibiotik sebelum dan setelah pembedahan abses. Antibiotik yang diserahkan disesuaikan dengan bakteri penyebab abses yang telah didiagnosis terlebih dahulu melewati kultur bakteri. Beberapa jenis antibiotik yang bisa diberikan, antara lain ialah ampicillin (baik diserahkan tersendiri ataupun digabungkan  dengan sulbactam), imipenem dan cilastatin, cefazolin, dan clindamycin.
  • Obat penghilang rasa sakit. Seringkali sebelum dan setelah pembedahan abses, pasien akan merasakan nyeri dan tidak nyaman di wilayah abses. Oleh karena tersebut dapat diserahkan obat anelgesik guna meringankan rasa nyeri tersebut. Contoh obat penghilang nyeri yang sering diserahkan adalah
  • Antiemetik. Obat ini dapat menolong memberikan efek sinergistik andai diberikan bareng dengan meperidine. Di samping itu, antiemetik bisa menghilangkan rasa hendak muntah yang timbul dari efek samping penyembuhan yang muncul. Contoh antiemetik yang bisa diberikan ialah promethazine.

Pasca dilaksanakan pembedahan dan pengobatan, pasien diwajibkan melakukan kontrol rutin untuk dokter yang bersangkutan sekitar 2-3 minggu. Konsultasi ini bertujuan untuk mengawasi penyembuhan luka pembedahan dan mengontrol bisa jadi munculnya fistula pada pasien. Kematian dampak abses maupun komplikasi pembedahan abses lumayan jarang terjadi. Namun, perlu dikenang bahwa fistula bisa saja terbentuk sejumlah waktu sesudah nanah abses dikeluarkan. Di samping itu, dapat pun muncul komplikasi dampak pembedahan. Oleh sebab itu, kontrol pasca pembedahan sangat urgen untuk dilakukan.