Sunday, 9 December 2018

Acute Respiratory Distress Syndrome

Acute Respiratory Distress Syndrome atau disingkat ARDS ialah kondisi yang muncul saat cairan mengumpul di alveoli, yakni kantung udara kecil dan lentur pada paru-paru. Cairan seringkali merembes dari pembuluh darah kecil.

Daftar cairan ini dapat menciptakan paru-paru tidak lumayan terisi udara dan pasokan oksigen ke aliran darah menjadi berkurang. Hal tersebut menyebabkan organ-organ, laksana ginjal dan otak, tidak bisa bekerja normal atau bahkan berhenti bermanfaat karena tidak mendapat lumayan oksigen.

Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) - Ortusehat

ARDS seringkali dialami oleh orang yang telah menderita penyakit kritis atau merasakan cedera lumayan parah. Kebanyakan ARDS mengakibatkan kematian, meskipun terdapat pula penderita yang bisa sembuh total. Besarnya risiko kematian bergantung dari umur penderita dan tingkat keparahan ARDS.

Gejala Acute Respiratory Distress Syndrome

Gejala yang dirasakan penderita ARDS bisa berbeda-beda, tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya. Beberapa fenomena yang mungkin dialami oleh penderita ARDS merupakan:

  • Napas menjadi paling pendek.
  • Sesak napas dan frekuensi napas menjadi cepat.
  • Tekanan darah turun.
  • Penurunan kesadaran dan merasa paling lelah.
  • Banyak berkeringat.
  • Pusing.
  • Bibir atau kuku berwarna kebiruan.
  • Batuk kering.
  • Demam.
  • Denyut nadi cepat.

Penyebab Acute Respiratory Distress Syndrome

Penyebab ARDS ialah merembesnya cairan dari pembuluh darah kapiler (pembuluh darah terkecil) dalam paru-paru ke dalam alveoli, lokasi di mana seharusnya darah dipasok dengan oksigen. Pada situasi normal, membran pembuluh darah akan mengawal cairan tetap di dalam. Adanya cedera atau penyakit yang berat dapat mengakibatkan kebocoran cairan dari dinding pembuluh darah. Cedera dan penyakit itu di antaranya merupakan:

  • Sepsis.
  • Menghirup zat berbahaya, laksana asap pekat atau uap kimia.
  • Pankreatitis.
  • Tersedak muntahan atau situasi nyaris tenggelam.
  • Pneumonia berat.
  • Cedera di kepala, dada, atau unsur tubuh lainnya.
  • Luka bakar.
  • Overdosis obat istirahat atau antidepresan.
  • Menerima transfusi darah dengan volume darah yang banyak.

Beberapa hal yang menambah risiko seseorang terpapar ARDS merupakan:

  • Ketergantungan alkohol.
  • Berusia di atas 65 tahun.
  • Perokok.
  • Menderita penyakit paru-paru kronis.

Diagnosis Acute Respiratory Distress Syndrome

Tidak terdapat metode pengecekan spesifik guna mendeteksi ARDS. Diagnosis yang dilaksanakan terhadap pasien yang dicurigai ARDS didasarkan pada pengecekan fisik, potret Rontgen dada, serta pengecekan analisis gas darah dari pembuluh arteri untuk menyaksikan kadar oksigen dalam darah. Pemeriksaan darah pun dapat dilaksanakan untuk menyaksikan adanya anemia atau infeksi. Selain potret Rontgen, dokter dapat mengerjakan CT scan guna mendiagnosis ARDS.

Pemeriksaan jantung pun mungkin bakal disarankan untuk penderita ARDS, karena gangguan jantung dan ARDS memiliki fenomena yang sama. Beberapa pengecekan jantung yang dapat dilaksanakan adalah:

  • Elektrokardiogram (EKG), guna melihat kegiatan listrik dalam jantung.
  • Ekokardiografi, guna mendeteksi gangguan pada struktur dan faedah jantung penderita.

Pengobatan Acute Respiratory Distress Syndrome

Beberapa tahapan yang dapat dilaksanakan dokter untuk menanggulangi ARDS merupakan:


  • Pemberian oksigen. Dokter akan menambah kadar oksigen dalam aliran darah penderita dengan menyerahkan oksigen tambahan melewati selang hidung ataupun masker.
  • Alat tolong napas atau ventilator. Ventilator menolong memberikan desakan udara ekstra ke paru-paru penderita.
  • Mengatur asupan cairan. Dokter akan menata jumlah cairan infus dan nutrisi yang masuk ke tubuh penderita, cocok hasil uji klinis dan suasana umum pasien.
  • Pemberian obat-obatan. Dokter akan menyerahkan obat untuk menangkal dan menanggulangi infeksi, meredakan nyeri dan ketidaknyamanan, menangkal penggumpalan darah pada kaki dan paru, dan meminimalisasi refluks asam dan isi lambung. Bila diperlukan diserahkan obat tidur, khususnya untuk pasien yang memakai alat tolong napas.
  • Rehabilitasi paru. Tindakan ini dibutuhkan untuk memperkuat sistem pernapasan dan menambah kapasitas paru-paru ketika pemulihan dari ARDS.

Komplikasi Acute Respiratory Distress Syndrome

Pasien ARDS berisiko menderita komplikasi ketika menjalani pengobatan. Beberapa komplikasi itu di antaranya merupakan:

  • Penggumpalan darah. Berbaring terus-menerus dapat menambah risiko terjadinya penggumpalan darah, khususnya pada pembuluh darah vena dalam di tungkai (deep vein thrombosis).
  • Kolaps paru-paru (pneumothorax). Penggunaan ventilator bermanfaat memberikan desakan udara ekstra untuk menambah aliran oksigen dalam darah. Ventilator pun membantu mencuci cairan dalam alveoli. Namun pemakaian ventilator berisiko menciptakan robekan kecil pada kantung udara paru-paru, sehingga menciptakan udara dalam paru-paru terbit melalui lubang kecil itu dan mengakibatkan paru-paru kempis.
  • Infeksi. Bagi menyambungkan paru-paru dengan mesin (ventilator), dimasukkan pipa atau selang ke dalam tenggorokan sampai melalui pita suara. Selang ini adalahbenda asing untuk tubuh yang berisiko melukai dan mengiritasi drainase pernapasan, serta menjadi tempat perkembangan bakteri.
  • Fibrosis paru. Fibrosis paru menyebabkan paru-paru menjadi tidak lentur dan sulit menyalurkan oksigen.

Beberapa gangguan kesehatan pun berisiko diderita oleh pasien ARDS yang sukses disembuhkan, seperti:

  • Gangguan pernapasan (biasanya napas menjadi pendek), sampai memerlukan oksigen ekstra saat kembali ke rumah.
  • Depresi.
  • Gangguan daya pikir dan daya ingat dampak otak sempat kelemahan pasokan oksigen.
  • Melemahnya otot dampak terlalu lama berbaring dan tidak digunakan.
  • Merasa lemas dan lelah.

Pencegahan Acute Respiratory Distress Syndrome

Ada sejumlah hal yang dapat dilaksanakan seseorang guna menurunkan risiko menderita ARDS, yaitu:

  • Menghentikan kelaziman merokok dan menghindari asap rokok.
  • Berhenti mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Rutin menemukan vaksin flu masing-masing tahun dan vaksin pneumonia masing-masing lima tahun untuk meminimalisir risiko infeksi paru-paru.